Peran SMK di Bidang Dunia Usaha dan Dunia Industri
Salah satu fenomena menarik yang perlu dicermati dari lulusan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) termasuk sekolah menengah kejuruan di Indonesia adalah ketidakmampuan lulusannya untuk cepat beradaptasi dalam memenuhi kebutuhan dunia usaha dan dunia industri yang modern. Hal ini menyebabkan jumlah pencari kerja lulusan SLTA yang terus membengkak. Seperti data yang tercatat di Dinas Tenaga Kerja dan Trasnmigrasi Provinsi Jawa Tengah tahun 2002, 2004 dan 2005 serta 2006 yang terus meningkat. Pada tahun 2002 tercatat jumlah pencari kerja lulusan SLTA sejumlah 58.225 orang menjadi 112.258 orang pada tahun 2004 dan 144.314 orang pada tahun 2005 dan terus melonjak sangat drastis menjadi 312.525 pencari kerja lulusan LTA di tahun 2006.
Di sisi lain dunia usaha dan dunia industri kita belum dapat bersaing dalam percaturan global untuk memenuhi produk yang sesuai dengan keinginan pasar. Ada kecenderuangan dunia usaha dan dunia industri yang enggan melakukan penelitian dan pengembangan produknya. Sehingga industri kita kalau dibiarkan hanya mengarah sebagai traders yang melakukan bisnisnya berdasar lisensi pihak asing yang tidak membutuhkan rekayasa engineering. Jadi industri kita merasa nyaman untuk mengimport teknologi lalu merakit sedikit, kemudian menjualnya kepada masyarakat, sehingga nilai tambahnya untuk bangsa dan negara cenderung tidak optimal. Padahal banyak produk inovasi rekayasa yang dihasilkan oleh sekolah menengah kejuruan, misalnya melalui lomba-lomba kompetensi siswa atau sekarang dikenal promosi kompetensi siswa yang dilaksanakan setiap tahun secara berjenjang dari tingkat daerah, provinsi sampai tingkat nasional bahkan untuk kompetensi-kompetensi tertentu sudah sampai internasional yang hasilnya hanya sekedar untuk keperluan lomba saja tidak dimanfaatkan untuk dikembangkan sebagai produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Oleh karena itu diperlukan suatu komitmen bersama antara dunia usaha dan dunia industri dengan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang didukung oleh kemauan politik dari pemerintah. Serta kepedulian para birokrat kependidikan dan pengusaha, untuk bekerja sama membangun dan melaksanakan Link and Match yang berpola Win-win Solution demi kemajuan sekolah menengah kejuruan sekaligus kemajuan dunia usaha dan dunia industri agar dapat bersaing di era global sekarang dan masa yang akan datang.
Di sisi lain dunia usaha dan dunia industri kita belum dapat bersaing dalam percaturan global untuk memenuhi produk yang sesuai dengan keinginan pasar. Ada kecenderuangan dunia usaha dan dunia industri yang enggan melakukan penelitian dan pengembangan produknya. Sehingga industri kita kalau dibiarkan hanya mengarah sebagai traders yang melakukan bisnisnya berdasar lisensi pihak asing yang tidak membutuhkan rekayasa engineering. Jadi industri kita merasa nyaman untuk mengimport teknologi lalu merakit sedikit, kemudian menjualnya kepada masyarakat, sehingga nilai tambahnya untuk bangsa dan negara cenderung tidak optimal. Padahal banyak produk inovasi rekayasa yang dihasilkan oleh sekolah menengah kejuruan, misalnya melalui lomba-lomba kompetensi siswa atau sekarang dikenal promosi kompetensi siswa yang dilaksanakan setiap tahun secara berjenjang dari tingkat daerah, provinsi sampai tingkat nasional bahkan untuk kompetensi-kompetensi tertentu sudah sampai internasional yang hasilnya hanya sekedar untuk keperluan lomba saja tidak dimanfaatkan untuk dikembangkan sebagai produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Oleh karena itu diperlukan suatu komitmen bersama antara dunia usaha dan dunia industri dengan sekolah menengah kejuruan (SMK) yang didukung oleh kemauan politik dari pemerintah. Serta kepedulian para birokrat kependidikan dan pengusaha, untuk bekerja sama membangun dan melaksanakan Link and Match yang berpola Win-win Solution demi kemajuan sekolah menengah kejuruan sekaligus kemajuan dunia usaha dan dunia industri agar dapat bersaing di era global sekarang dan masa yang akan datang.
Bergunakah SMK di Dunia Usaha dan Dunia Industri?
Jika kita bicara soal kesempatan kerja, maka di negara kita jika ada satu pekerjaan maka diperkirakan ada seribu orang yang akan melamar. Dari seribu orang itu mungkin hanya sekitar seratus orang yang memenuhi persyaratan administrasi dan lulus test psikologi. Intinya begitu besar “gap” atau perbedaan antara “Supply and Demand” ,antara persyaratan kerja dengan mereka yang memenuhi kualifikasi persyaratan kerja tersebut.
Hasil dari dunia pendidikan berupa lulusan SMK atau Politeknik yang memang dipersiapkan untuk segera memasuki dunia kerja masih jauh dari harapan. Ada beberapa sekolah kejuruan atau politeknik yang lulusannya langsung dapat masuk kepasar kerja. Mereka mempunyai peralatan latihan kerja yang memadai, biasanya merupakan proyek percontohan atau bekerjasama dengan industri tertentu. Sekolah kejuruan dan politeknik yang berjalan tanpa menyediakan peralatan latihan kerja yang memadai, akan ketinggalan teknologi dan lulusannnya masih harus dibekali dengan ketrampilan untuk dapat memenuhi standard industri.
Pada negara lain yang sudah maju masih terdapat juga masalah “link and Match” antara keluaran dari pendidikan dengan kebutuhan dunia industri. Bedanya setiap tahun besarnya “gap” itu semakin diperkecil dengan selalu mengevaluasi dan memperbaiki sistem pendidikannya. Jepang saja sebagai negara industri yang sangat maju masih ada “mis-match” dalam penempatan tenaga kerjanya.Hal ini diatasi dengan memberikan kesempatan bagi pencari kerja angkatan muda untuk melaksanakan program magang. Dengan magang di industri atau di UKM (Usaha Kecil Menengah), dan mendapatkan uang saku yang memadai, maka ketrampilan bekerja seseorang menjadi meningkat.
Di Jerman untuk pendidikan Vokasi atau kejuruan, Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Jerman memegang peranan sangat besar.Pemerintah memberikan kewenangan kepada KADIN Jerman untuk membuat kurikulum, menyediakan tempat magang, menyediakan para trainer atau pengajar dan juga assesornya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan materi ajar, penguji, pengajar dan evaluasi sekolah kejuruan ditangani oleh KADIN Jerman. Dual sistem atau sistem ganda pada sekolah kejuruan di Jerman, mengajarkan teori sekitar 20 % di sekolah dan 80 % nya adalah magang dengan bimbingan para supervisor di industri.Tidak heran lulusan SMK otomotif misalnya langsung mendapatkan pekerjaan di perusahaan otomotif. Biasanya mereka langsung diterima bekerja diperusahaan tempat mereka magang. Dengan magang langsung di industri, semua peralatan dan kebutuhan perusahaan selalu up to date, tidak ada perbedaan anatara alat peraga yang ada di sekolah dengan yang ada di industri, seperti yang kita alami.Saya melihat sendiri bagaimana anak magang mempelajari otomotif di pabrik Porsche, mobil canggih yang sangat mahal harganya. Paling murah harga mobil Porsche adalah US $ 650.000. Bandingkan dengan anak SMK Otomotif kita yang masih belajar dengan mesin mobil kuno yang tidak sesuai dengan perkembangan tekhnologi.
Seharusnya pemerintah daerah dengan kekuasaan otonominya mengetahui dengan pasti apa keunggulan daerahnya. Berdasarkan produk keunggulan daerahnya, maka dibangun kompetensi sumber daya manusianya. Misalnya di Bali yang terkenal dengan pariwisatanya, maka pemerintah daerah fokus pada pembangunan Kompetensi keahlian yang berbasis pariwisata. Di Jawa Tengah yang terkenal sebagai pusat budaya dan juga kerajinan furniture, dibangun kompetensi yang berbasis kerajinan furniture. Di Papua yang kaya emas dan juga kayunya, dibangun komptensi keahlian emas dan kayu. Dengan demikian terbentuk suatu keahlian yang khusus, unik dan berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Jika selama ini kita masih sibuk menghabiskan anggaran untuk membangun infra struktur, misalnya gedung, sekolah dan perlengkapannya atau mengundang investor membangun industri di daerah. Maka sudah saatnya investasi kita arahkan untuk pembangunan sumber daya manusianya dulu. Tanpa kompetensi. tanpa adanya “link and match” antara pendidikan dan dunia industri, maka segala peralatan, gedung dan investasi menjadi tidak maksimal dan sia-sia.Berapa banyak gedung sekolah dengan segala peralatannya yang canggih tidak berfungsi dengan baik, karena tidak ada tenaga ahli yang dapat menjalankannya. Sudah saatnya kita bekerjasama membangun kompetensi unggulan daerah. Anggaran pendidikan yang begitu besar seharusnya juga diberikan kepada lembaga pelatihan industri yang sudah terbukti berhasil.misalnya untuk mendidik tenaga kerja yang trampil dibidang otomotif, tidak perlu membangun sekolah otomotif sendiri, tapi serahkan dana tersebut misalnya kepada ASTRA group untuk mengembangkan lembaga pelatihan otomotifnya.Untuk mencetak tenaga ahli elektronik, berikan anggaran kepada Panasonic Gobel misalnya untuk memperkuat lembaga pelatihan elektronik yang selama ini hanya untuk melayani kebutuhan internal.
Sudah saatnya kita bersatu, bekerjasama, saling membantu dan saling memperkuat sektor yang sudah baik untuk kemajuan bangsa. Bearapa banyak perjalanan studi banding dilakukan oleh para pejabat kita, tanya pada hati nurani apakah sudah saatnya menghentikan segala macam perjalanan studi banding yang menghabiskan anggaran dan belum terlihat tanda kapan akan diimplementasikan demi kemajuan bangsa kita tercinta.
Fungsi SMK
Sekolah Menengah Kejuruan sering dijadikan oleh lulusan SMP untuk menjadi pilihan utamanya jika tidak ada niat untuk melanjut ke Perguruan Tinggi. Pemikiran ini sah-sah saja karena SMK memang berorientasi kepada usaha menghasilkan lulusan yang siap kerja. Namun pemikiran ini juga tidak sepenuhnya benar karena lulusan SMK pun dapat melanjut ke jenjang perguruan tinggi.
Program pemerintah sekarang adalah mengoptimalkan perbandingan jumlah SMK dan SMU; 70% berbanding 30%. Di Indonesia sekarang ini lebih banyak SMU dari SMK. Hal inilah yang ingin di ubah oleh pemerintah dengan memperbanyak SMK dibandingkan SMU. Hal ini dilakukan oleh pemerinah seiring dengan tuntutan pasar tenaga kerja dan peta pengangguran di Indonesia. Tingkat pengangguran di Indonesia didominasi oleh lulusan dari SMU. Hal ini terjadi karena SMU adalah pendidikan keilmuan dan kurikulumnya tidak diorientasikan kepada kurikulum terapan berorietasi siap kerja.
Dalam rancangan kurikulum terbaru SMK maka kurikulum SMK diarahkan kepada mata-mata ajar yang bernunsa terapan dengan orientasi siap kerja. Pemerintah bahkan membuka peluang selebar-lebarnya peluang untuk mendirikan SMK untuk seluruh bidang kejuruan yang memiliki prospek pekerjaan bagi lulusannya.
SMK yang sekarang sudah banyak dibuka di Sumatera Utara adalah SMK Komputer, SMK Teknologi Industri, SMK Bisnis Manajemen, SMK Pertanian, SMK Perikanan, SMK Pariwisata SMK Kerajinan Tangan dan lain-lain.
Adanya Kunjungan Dunia Usaha dan Dunia Industri serta uji kompetensi menjadi satu kekuatan bagi SMK untuk mengenalkan diri kepada pasar tenaga kerja, sehingga siswa/i yang lulus dari SMK diharapkan dapat terjun kepasar tenaga kerja dan memiliki competitive adventage. Di tengah lesunya kemampuan daya serap tenaga kerja maka SMK juga memegang peranan dengan orientasi untuk menghasilkan entrepreneurship yang baru dikalangan masyarakat. Pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan yang lebih berorientasi keahlian ini menjadi sebuah peluang usaha bagi lulusan SMK yang tidak ingin melanjut.
Seiring dengan visi dan misi Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan maka Sekolah Menengah Kejuruan diharapkan mampu menurunkan tingkat pengangguran dan meningkatkan iklim investasi untuk skala mikro dan kecil di Indonesia. Dengan tujuan untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja dan membangun jiwa wirausaha maka peranan SMK menjadi sangat dibutuhkan di tengah masyarakat.
Sekolah Menengah Kejuruan ini akan mampu mengatasi krisis jika SMK mampu menghasilkan lulusan yang dapat diserap pada pasar tenaga kerja dan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi. Tingginya sumber daya manusia yang dapat diserap di pasar tenaga kerja maka perekonomian akan semakin baik.
Tugas KKPI SMK Cendrawasih